Surat Al-Lahab dan artinya kerap dicari karena surat pendek ini — hanya 5 ayat, 29 kata — menyimpan salah satu pernyataan paling berani dalam Al-Qur’an: vonis terhadap seseorang yang masih hidup, yang dinyatakan tidak akan pernah beriman. Surat ke-111 ini termasuk golongan Makkiyah, diturunkan di Mekkah sebelum hijrah, dan berada di Juz 30. Di balik teksnya yang ringkas, tersimpan tafsir per kata yang penuh nuansa, kisah sebab turun yang dramatis, dan pelajaran tentang batas antara kekerabatan dan keimanan.
Baca juga: Surah Al-Mulk lengkap dan artinya
Teks Surat Al-Lahab Ayat 1–5: Arab, Latin, dan Artinya
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Ayat 1
تَبَّتْ يَدَآ اَبِيْ لَهَبٍ وَّتَبَّ
tabbat yadā abī lahabin wa tabb
Artinya: Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan benar-benar binasa dia.
Ayat 2
مَآ اَغْنٰى عَنْهُ مَالُهٗ وَمَا كَسَبَ
mā aghnā ʿanhu māluhu wa mā kasab
Artinya: Tidaklah berguna baginya hartanya dan apa yang dia usahakan.
Ayat 3
سَيَصْلٰى نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ
sayaṣlā nāran dhāta lahab
Artinya: Kelak dia akan memasuki api yang bergejolak (neraka).
Ayat 4
وَّامْرَاَتُهٗ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ
wa-mraʾatuh, ḥammālatal-ḥaṭab
Artinya: Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar (penyebar fitnah).
Ayat 5
فِيْ جِيْدِهَا حَبْلٌ مِّنْ مَّسَدٍ
fī jīdihā ḥablun min masad
Artinya: Di lehernya ada tali dari sabut yang dipintal.
Terjemahan di atas mengikuti terjemahan resmi Kementerian Agama RI. Surat Al-Lahab dan artinya dalam latin di atas dapat langsung digunakan untuk hafalan dan bacaan dalam shalat.
Apa Arti Surat Al-Lahab? Makna Per Kata yang Sering Disalahpahami
Terjemahan harfiah surat Al-Lahab terasa jelas, tapi justru di balik pilihan kata-katanya tersimpan nuansa yang sering luput. Empat kata berikut layak dicermati lebih dalam.
تَبَّتْ (Tabbat) — bukan sekadar “binasa”
Ini adalah vonis yang sudah pasti dan final, bukan doa semata. Secara gramatikal, tabbat adalah fi’il madhi (kata kerja lampau) yang dalam konteks ini menyatakan kepastian mutlak. Ayat pertama membuka dengan pernyataan ini — bukan ancaman bersyarat. Kata kedua di akhir ayat, wa tabb, menegaskan: kalimat pertama adalah doa kebinasaan, kalimat kedua adalah konfirmasi bahwa kebinasaan itu benar-benar terjadi.
يَدَآ (Yadā) — kedua tangan sebagai majaz
Menyebut “tangan” dalam bahasa Arab kerap berarti menyebut kemampuan, usaha, dan seluruh eksistensi seseorang — karena hampir semua yang dikerjakan manusia melibatkan tangannya. Kebinasaan yang dimaksud bukan sekadar fisik, melainkan seluruh daya, pengaruh, dan ambisi Abu Lahab. Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa yang binasa bukan hanya tangannya, namun keseluruhan dirinya — ini ungkapan majazi yang lazim dalam bahasa Arab.
كَسَبَ (Kasab) — lebih dari sekadar harta
Mayoritas orang langsung memaknai kasab sebagai uang atau hasil perdagangan. Namun menurut Tafsir Ibnu Katsir, Ibnu Abbas, Mujahid, dan Aisyah menafsirkan kata ini juga mencakup “anak” — karena anak adalah hasil jerih payah terbesar seorang orang tua. Konteks ini penting: Abu Lahab pernah berkata ia akan menebus diri dari azab dengan harta dan anak-anaknya di akhirat. Ayat 2 menjawab langsung: tidak ada yang bisa menolong, termasuk keturunan.
مَّسَدٍ (Masad) — dua penafsiran yang keduanya diterima
Penafsiran paling umum: tali dari sabut pelepah kurma yang melilit leher Ummu Jamil di neraka — ironi dari kalung emas mewah yang ia banggakan di dunia. Sebagian ulama mengartikan masad sebagai rantai besi neraka. Perbedaan ini bukan kontradiksi; keduanya diterima dalam tradisi tafsir dan tidak saling meniadakan.
Mengapa Surat Ini Punya Tiga Nama: Al-Lahab, Al-Masad, dan At-Tabbat?
Jika pernah menemukan surat ini disebut dengan tiga nama berbeda, itu bukan kesalahan. Ketiganya merujuk surat yang sama, masing-masing diambil dari bagian berbeda ayat-ayatnya.
| Nama | Artinya | Asal Ayat | Penggunaan Umum |
|---|---|---|---|
| Al-Lahab | Gejolak Api | Kata lahab di ayat 1 dan ayat 3 | Paling sering diucapkan sehari-hari di Indonesia |
| Al-Masad | Sabut (serat pelepah kurma) | Kata terakhir ayat 5: masad | Nama resmi yang tercetak di sebagian besar mushaf |
| At-Tabbat | Kebinasaan | Kata pertama ayat 1: tabbat | Ditemukan dalam riwayat-riwayat awal; jarang dipakai di Indonesia |
Kebiasaan menamai surat berdasarkan kata khasnya adalah tradisi umum dalam penamaan surah-surah Al-Qur’an. Tidak ada “nama yang benar” dan “nama yang salah” di antara ketiganya.
Baca juga: Dua Ayat Terakhir Surah Al-Baqarah: keutamaan dan hadis lengkapnya
Asbabun Nuzul: Kisah Turunnya Surat Al-Lahab
Kisahnya dimulai di Lembah Batha, Mekkah. Rasulullah SAW menaiki Bukit Shafa, lalu berseru sekeras-kerasnya memanggil kaum Quraisy untuk berkumpul. Seruan dari atas bukit biasanya berarti ada bahaya besar yang mendekat — satu per satu orang berdatangan, termasuk para pemimpin suku.
Setelah semua berkumpul, Rasulullah SAW bertanya: “Bagaimana pendapat kalian, jika aku kabarkan bahwa ada pasukan musuh yang akan menyerang kalian esok pagi atau sore hari — apakah kalian akan percaya?” Mereka menjawab: ya, kami percaya, karena engkau tidak pernah berbohong. Maka Rasulullah SAW berkata: “Ketahuilah, sesungguhnya aku memperingatkan kalian dari azab yang amat keras.”
Abu Lahab bereaksi bukan dengan diam, melainkan berteriak: “Celakalah kamu! Inikah yang kamu kumpulkan kami untuknya?” Lalu ia pergi. Tidak lama setelah itu, turunlah surat ini.
Riwayat ini bersumber dari Ibnu Abbas, diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari melalui jalur Abu Mu’awiyah — Al-A’masy — Amr bin Murrah — Sa’id bin Jubair. Ini termasuk salah satu riwayat asbabun nuzul dengan sanad paling kuat dalam literatur tafsir klasik.
Yang menarik: setelah surat ini turun, Ummu Jamil datang sambil membawa batu, mengancam ingin memukul Rasulullah. Namun ia tidak bisa melihat beliau yang duduk di sana — hanya Abu Bakar yang tampak di matanya.
Siapa Abu Lahab dan Istrinya? Tokoh di Balik Surat Ini
Dua orang yang diabadikan dalam surat ini bukan tokoh asing — mereka adalah bagian dari lingkaran terdekat Rasulullah SAW yang justru memilih menjadi penentangnya yang paling keras.
Abu Lahab
Nama aslinya adalah Abdul ‘Uzza bin Abdul Muthalib — paman kandung Nabi dari pihak ayah. Julukan “Abu Lahab” yang berarti “bapak api bergejolak” diberikan karena wajahnya yang merah bersinar. Ia adalah pedagang sekaligus pemimpin berpengaruh di kalangan Quraisy, dengan harta dan status sosial yang tinggi. Setelah Perang Badar, ia meninggal akibat penyakit lepra — tidak ada yang mau mengurusnya karena takut tertular, dan jasadnya dibiarkan selama tiga hari sebelum akhirnya dikubur.
Ummu Jamil
Nama aslinya adalah Arwah binti Harb bin Umayyah, saudara perempuan Abu Sufyan dan istri Abu Lahab. Ia dijuluki pembawa kayu bakar karena dua hal sekaligus: secara harfiah pernah meletakkan duri-duri berduri di jalan yang biasa dilalui Rasulullah, dan secara majazi suka menyebarkan fitnah untuk membakar permusuhan terhadap Islam. Di dunia ia terkenal karena kalung mewahnya; dalam surat ini dinyatakan bahwa di neraka lehernya akan diikat tali sabut — ironi yang disengaja.
Perlu ditegaskan: Abu Lahab berbeda dengan Abu Jahal. Abu Jahal (Amr bin Hisyam) tidak memiliki hubungan darah dengan Nabi dan berasal dari klan Makhzum, sedangkan Abu Lahab dari klan Hasyim — kerabat darah yang memilih menjadi musuh.
Isi Kandungan dan Pelajaran Surat Al-Lahab
Dari berbagai sumber tafsir — Ibnu Katsir, Al Munir karya Wahbah Az-Zuhaili, Zilalil Quran karya Sayyid Qutb, Al Azhar karya Buya Hamka, dan Al Misbah karya Quraish Shihab — berikut pokok-pokok ajaran surat ini:
1. Kekerabatan tanpa iman tidak bernilai di sisi Allah. Abu Lahab adalah paman kandung Rasulullah SAW — kedekatan yang paling intim secara nasab. Tapi Al-Qur’an tidak memberinya pengecualian apapun. Hubungan darah hanya bermakna jika dibangun di atas iman dan takwa. Ini bukan pelajaran baru, tapi surat ini menyampaikannya dengan cara yang paling langsung.
2. Harta dan status tidak bisa menebus azab Allah. Abu Lahab pernah berkata ia akan menebus diri dari azab dengan harta dan anak-anaknya di akhirat (diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud). Ayat 2 menjawab dengan tegas: tidak ada yang bisa menolong — baik yang ia miliki maupun yang ia usahakan.
3. Fitnah pasti berbalik merugikan pelakunya. Ummu Jamil menyebarkan fitnah untuk merusak nama Rasulullah. Kini, nama dan perbuatannya justru tercatat untuk selamanya dalam Al-Qur’an — menjadi peringatan bagi umat Islam sepanjang masa. Pelaku fitnah tidak pernah menang.
4. Surat ini adalah salah satu mukjizat Al-Qur’an. Diturunkan saat Abu Lahab masih sehat dan berkuasa, surat ini menyatakan ia tidak akan pernah beriman. Klaim itu terbukti sampai hari kematiannya. Ini bukan prediksi probabilistik — ini pernyataan kepastian dari Yang Maha Mengetahui.
Bukti Kenabian: Mengapa Surat Al-Lahab Disebut Mukjizat?
Argumen logisnya sederhana tapi kuat. Saat surat ini turun, Abu Lahab masih hidup dan secara teori bisa masuk Islam kapan saja — bahkan hanya dengan berpura-pura beriman, untuk membuktikan Al-Qur’an salah. Namun ia tidak melakukannya. Sampai detik kematiannya, ia tidak pernah mengucapkan syahadat — tidak secara zahir maupun batin.
Fakta ini bukan kebetulan. Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa sejak surat ini turun, Abu Lahab dan istrinya tidak pernah beriman sama sekali — tidak yang ditampakkan maupun yang tersembunyi — dan inilah yang membuktikan kebenaran kenabian Muhammad SAW. Tidak ada manusia yang bisa membuat pernyataan seperti itu tanpa pengetahuan dari Allah Yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi.
Keutamaan Membaca Surat Al-Lahab
Diriwayatkan dalam Tafsirul Burhan (Juz 8: 414): “Barangsiapa membaca surat ini, Allah tidak akan mengumpulkan dirinya bersama Abu Lahab. Barangsiapa membacakannya atas orang yang sakit perut, akan sembuh dengan izin Allah. Barangsiapa membacanya ketika hendak tidur, Allah akan melindunginya.”
Penting: keutamaan ini disampaikan menurut sebagian riwayat tafsir — sampaikan dengan keyakinan bahwa segala sesuatunya atas izin dan kehendak Allah SWT.
Selain keutamaan yang tercatat dari riwayat, ada hikmah praktis yang bisa langsung diambil:
- Peringatan dari bahaya fitnah. Kisah Ummu Jamil adalah cermin nyata bahwa menyebarkan fitnah membawa konsekuensi yang tidak berakhir baik.
- Pengingat tentang batas harta. Ayat 2 adalah jawaban langsung untuk siapapun yang merasa kekayaan bisa menyelamatkannya dari segala konsekuensi.
- Penguat iman dan tauhid. Membaca surat ini dengan memahami artinya memperkuat keyakinan bahwa tidak ada yang tersembunyi dari Allah, dan tidak ada harta atau jabatan yang bisa mengubah ketetapan-Nya.
Pertanyaan Umum tentang Surat Al-Lahab
Surat Al-Lahab ada berapa ayat? Surat Al-Lahab terdiri dari 5 ayat. Surat ini termasuk golongan Makkiyah (diturunkan di Mekkah), berada di Juz 30, dan merupakan surat ke-111 dalam urutan mushaf Al-Qur’an. Dalam 5 ayat itu terdapat 29 kata — salah satu surat terpendek, namun salah satu yang paling padat maknanya.
Apa arti Al-Lahab dalam bahasa Indonesia? Al-Lahab artinya “Gejolak Api.” Nama ini diambil dari kata lahab yang muncul di ayat ketiga surat ini. Surat ini juga dikenal dengan nama Al-Masad (sabut) yang diambil dari kata terakhir ayat kelima, dan At-Tabbat dari kata pertama ayat pertama.
Apa yang dimaksud “pembawa kayu bakar” pada ayat 4 surat Al-Lahab? Ungkapan “pembawa kayu bakar” (ḥammālatal ḥaṭab) merujuk pada Ummu Jamil, istri Abu Lahab, dengan dua makna sekaligus. Secara harfiah ia pernah meletakkan duri-duri di jalan yang dilalui Rasulullah SAW. Secara majazi, ungkapan ini berarti penyebar fitnah — seseorang yang membakar kebencian dan permusuhan. Kedua makna berlaku sekaligus pada diri Ummu Jamil.
Mengapa Abu Lahab disebutkan namanya langsung dalam Al-Qur’an? Karena permusuhannya paling keras dan paling terang-terangan, dan ia adalah paman kandung Rasulullah SAW — posisi yang membuatnya punya pengaruh besar untuk membantu atau menghambat dakwah. Ia memilih menghambat. Dengan disebutkan namanya secara langsung, kisahnya menjadi peringatan permanen bagi seluruh umat Islam hingga akhir zaman.
Apa perbedaan Abu Lahab dan Abu Jahal? Abu Lahab adalah paman kandung Nabi (Abdul ‘Uzza bin Abdul Muthalib) dari klan Hasyim, sedangkan Abu Jahal (Amr bin Hisyam) tidak memiliki hubungan darah dengan Nabi dan berasal dari klan Makhzum. Keduanya sama-sama menentang Islam, namun Abu Lahab diabadikan dalam satu surat tersendiri dalam Al-Qur’an.
Sumber referensi: Tafsir Ibnu Katsir · Tafsir Al Munir (Wahbah Az-Zuhaili) · Tafsir Al Azhar (Buya Hamka) · Tafsirul Burhan · Shahih Al-Bukhari · Terjemahan resmi Kemenag RI